Di depanmu hanya ada pasir hitam. Di belakangmu sudah hilang semua peradaban manusia. Sekarang kamu sedang bingung, kamu tidak tahu lagi apa yang harus kamu lakukan. Di atasmu sudah tidak ada cahaya. Di bawahmu tanah taklagi basah. Kamu sudah menanti hujan sejak lama. Cahaya sudah lama tidak ada. Kamu sudah tidak bisa menemukan gelas, lemari, televisi, telepon genggam, computer bahkan kloset untuk buang air. Air pun hanya kamu nikmati dengan cara mengumpulkan ludah untuk ditelan. Semua air di dunia sudah hilang. Api menghilangkan semua, dirinya hadir dari benturan-benturan energi. Api tetap ada, hanya bila kamu menggesekan dua kayu kering berkali-kali, api akan lahir dari sebuah gesekan. Yang tidak terlihat justru tetap ada, dia masih setia memberimu nafas bagi nyawamu. Kamu masih hidup juga karena dia masih ada. Paru-parumu bekerja karena dia. 21 gram nyawamu tetap menempel karena dia masih setia memberimu nafas.
Ini adalah udara terakhir, sebelum kamu juga mati menyusul semua.
Kamu tidak bisa melakukan apa-apa, semuanya sudah musnah. Kamu tidak melihat siapa-siapa. Mereka sudah mati bersama semua yang ada. Kamu menangispun tidak ada yang mendengar. Mungkin suara tangismu adalah suara terakhir yang pernah terdengar. Pandang matamu hitam. Karena sumber cahaya sudah enggan memberi penerang. Matamu takberfungsi Cahayamu adalah tidak ada cahaya. Kamu disisakan untuk dijadikan pasangan dari ‘pertama’. Kamu mungkin pernah mendengar dongeng tentang manusia pertama di Bumi ini? Dongeng itu amat istimewa, bagi manusia. Ketika itu dunia sendiri tanpa manusia. Sampai pada akhirnya, manusia turun untuk menemani dunia. Kamu kini menjadi pelengkap cerita itu. Kamu menjadi manusia yang terkahir dan dunia meninggalkanmu dengan kesendirian. Maaf sekali lagi kuulangi, siapa namamu. Kau akan melengkapi kisah manusia. Adam menjadi yang pertama lahir sedangkan kau menjadi yang terakhir mati. Siapa namamu?
keren sekali kakak!!!
BalasHapus