Sabtu, 26 Juni 2010

malam di tahun 2017

Hari ini, minggu 2 Oktober 2017. Aku terbangun bukan karena cahaya Matahari. Tepat pukul 7. Mengucek sejenak mata berkedip, lalu mengambil handuk untuk mandi. Siapa tahu selepas mandi ada Matahari. Tanpa sabun dan pencuci rambut karena sudah lumayan lama lenyap dari muka bumi. Kulihat kecoak betina menggapai kloset. Semakin banyak kecoak semenjak 5 tahun terakhir, karena sabun memang sudah lama lenyap. Takbutuh kecoak betina akan wangi. Aku selesai mandi. Kubuatkan teh untuk diriku. Merindu kerongkonganku akan hangat dan manisnya the. Sudah segar dan sudah hangat, kuberpakaian lalu diam.

Hari tetap gelap, semenjak 5 tahun yang lalu. Waktu berlalu hanya aku dan lilin cantik berlipstikan merah. Gincumu tebal sayang. Waktu berlalu dalam menung. Jam menunjukan pukul 1 hari tetap gelap dan basah. Kuberdoa dalam diam, termenung bersama lilin bergincu merah. “Tuhan, kapan terang melalui kulitku yang lembab karena dingin. Lalu…

Pukul 5 mencolekku dengan matanya yang tetap gelap. Aku kembali diam. Dengan lamunan handal mengendarai cicak, lalu berpetualang di dunia dinding. Lamunan panjang membawa….

Pukul 6 pada kesadaranku. Pukul enam datang tanpa senja, hanya suara adzan yang pelan merintih di kerongkongan. Suara anjing yang semakin banyak, karena bangkai manusia setiap hari ada saja yang mati tanpa punya lahan untuk dikubur. Bangkai manusia mati akibat bunuh diri. Bunuh diri akibat sakit kejiwaan. Sakit ketakutan. Sakit kebosanan. Sakit yang menyakitkan. Pukul 6 berlalu sangat cepat hingga…

Pukul 9 saatnya menyalakan televisi, yang terakhir diproduksi pada tahun 2010. televisi keluaran terakhir di muka bumi. Acara hanya menyajikan kematian, kekeringan, dan kematian. Hanya menyajikan pembunuhan, mayat, dan bunuh diri. Laporan langsung dari tempat pembakaran mayat sementara. Menakutkan lalu kumatikan.

Pukul 11 masih sama gelap tanpa cahaya, sudah 10 lilin bergicu merah kunyalakan lalu habis, kunyalakan lalu mati karena habis. Kelalawar terbang rendah berlalu dengan tarian lambaian tangan yang lelah karena waktu. Aku hanya berbicara pada cicak dan dindingnya yang tanpa tapak. Sendiri. Berdua bila lilin bisa kuajak bicara.

Waktu sudah mati 5 tahun yang lalu, kini sudah pukul 1 lagi, dan langit masih gelap. Matahari masih marah. Waktu semuanya hitam. Waktu semuanya hitam.
Kapanku waktuku bersama denganmu Matahari?

1 komentar: