Sabtu, 26 Juni 2010

Hingga Itu Kawan

Kalau matiku kawan saat ini masih percuma:
Bola hitam putih nan bulat bergelinding di tanah yang rumput
Biar gravitasi yang menjemput

Tanah pekuburan dunia bau manusia, bulat yang menggelindingkan hitam dan putih bukan perkara pandangan pada mata dan warna

Kita tentu masih ingat tentang langit yang jingga hingga tanah yang senja
Hingga takada lagi hingga ketika kita bersama lalu menjadi seolah mati ketika kita sendiri; hingga
menjadi petaka akhir: hingga kita mati bersama di ruang yang sen'diri'

Puluhan lukisan pelangi yang kita bentuk dari hitam yang tenang dan senang
Kita berenang bahkan berendam dalam lautan warna pelangi yang hitam, senyum tipis awan yang putih, mendung habis hujan yang gerimis, tawa sinis tangis yang manis

:takpeduli kita, takpeduli taksadar atau tiada kita menepis

Kita tenggelam bersama; merasa gelap bahkan ketika tertawa; merasa putih baru ketika menangis; sadar waktu bukanlah metafora

Hingga muntah waktuku oleh nasi yang kita masak bersama
Bukan karena sadar bahwa kenyang sesudah lapar adalah hal yang wajar: menjadi tidak mungkin sama sekali karena waktu tidak pernah lapar dan kita tidak pernah kenyang

Bukan pula karena nasi yang kita olah bersama hingga suapan pertama menjadi tawa dan tangis;
Bukan pula karena hujan bermimpi tentang kisah cinta si matahari; bukan pula cinta kereta kuda yang menghampiri pagi karena sepi; bukan pula imajinasi mati lebih mati daripada mati

Bukan
Bukan itu kawan
Saat ini yang kuingat hanya dua hal:
kita
melupakan Tuhan dan melupakan kata pertama ketika kita mulai bisa berbicara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar